Arti 2020 Adalah Luluh Lantak, Hancur, Kandas

Mereka yang pernah mendengar acara televisi, “Ceriwis” di awal tahun 200an, pasti kenal Indy Barends.  Selama beberapa tahun, acara tersebut berhasil mengambil hati banyak orang dari berbagai kalangan. Acara yang ditunggu-tunggu hampir setiap hari demi menyegarkan pikiran dari kepenatan. Tidak hanya dalam “Ceriwis”, di berbagai platform lain seperti radio dan acara off air, ia pun selalu terlihat ceria. Acara-acara yang dibawakannya menghadirkan keseruan dan canda tawa. Ia yang lebih sering dipanggil Tendy ini, memang tampak jauh dari kesedihan. Seolah tidak pernah membiarkan kesedihan menghampiri dan mengganggu suasana hatinya. Tapi apakah di masa pandemi yang menebarkan bibit-bibit kesulitan di tengah-tengah kita ini seorang Tendy tetap sumringah?

Ia pun menceritakan kisahnya selama pandemi secara virtual pada kami. Sambil berada duduk manis di taman belakang rumahnya, Tendy memulai topik dengan membicarakan tentang pelajaran di tahun 2020 yaitu melatih kesabaran. Menurutnya, di tahun ini ternyata banyak orang yang tiba-tiba bisa jadi kreatif. Semua akhirnya bisa melakukan hal-hal yang mungkin belum pernah dicoba sebelumnya. Mendadak ada yang bisa masak dan tiba-tiba bisa buat roti. Mendadak banyak yang bisa pelihara tanaman dengan beragam jenis yang aneh-aneh. 

“Gue baru sadar ternyata banyak sekali yang bisa kita lakukan, yang tadinya diri sendiri nggak pernah tahu kalau mampu. Begitu pun gue dengan kesabaran. Pelajaran yang bener-bener terasa banget buat gue adalah S-A-B-A-R. Kesabaran gue sebagai ibu bener-bener diuji banget tahun ini, karena gue juga harus jadi guru, menemani anak belajar di rumah. Itu tuh nggak gampang. Casting-casting aja mah bisa gue lewatin. Shooting bisa gue coba. Tapi jadi guru buat anak-anak dan mendampingi mereka saat belajar di rumah, itu adalah PR banget buat kita orang tua. Juggling, dalam arti kata harus ke kiri, harus ke kanan. Kita nggak cuma harus mampu terlihat pintar atau sok tahu depan anak, tapi kita juga harus mampu membuat mereka yakin dan tenang, bahwa dengan belajar di rumah bersama kita orang tuanya itu adalah hal yang teraman, harusnya”, curhatnya. 

Tendy mengakui bahwa di awal menjadi guru untuk anaknya ia harus benar-benar meredam emosi. Menahan nada-nada tinggi dan ucapan yang tidak enak didengar anak-anak. Contohnya ketika sedang menjelaskan kembali apa yang diinformasikan guru lalu sang anak kebingungan dan orang tua tidak sengaja bilang, “Ayo dong, masa gitu aja gak bisa, mikir dong”. Ternyata pernyataan ini menyakiti hati sang anak. Bukan berarti si anak tidak mau berpikir tapi memang sedang kesulitan mencerna informasi. Jadi menurut Tendy, orang tua harus super sabar ketika sedang bersama anak-anak menjadi guru di rumah. Di saat seperti ini, orang tua tidak hanya harus menjadi orang tua saja tapi jadi guru. Sambil menahan menjatuhkan air mata Tendy pun bilang, “Bukan jempol lagi deh yang bisa gue kasih buat orang tua yang mampu banget, bisa jadi semuanya dalam rumah. Jadi ibu dan guru yang harus terus menahan emosi. Ini air mata kayaknya nggak ada berhentinya, isi ulang mulu, ada lagi, ada lagi. Harus sabar menghadapi situasi apapun, menciptakan rasa aman dalam keluarga.”

Selain harus sabar dengan kondisi di rumah, Tendy juga harus melatih kesabarannya menghadapi kenyataan bahwa banyak pekerjaan yang harus kandas selama pandemi, yang kemungkinan besar terjadi sampai akhir tahun. Meski ia masih bersyukur masih ada pekerjaan-pekerjaan yang ternyata datang di luar rencana. Walaupun sebenarnya belum bisa dikerjakan setotal dulu. Jadi memang pelajaran paling berharga yang ia dapatkan selama tahun 2020 adalah mengatur emosi agar dapat bisa lebih bersabar. Bahkan Tendy berusaha untuk selalu bilang pada dirinya sendiri, “Gila ya, gue emang harus bisa belajar sabar hadapi ini-itu.” Padahal dulu ia mengakui sering marah-marah atau menggerutu kalau ada pekerjaan yang dibatalkan. “Sekarang mau ngeluh ke siapa? Nggak ada yang bisa dilakukan juga karena pandemi”, tambahnya lagi. Saat kami menyadarkannya bahwa tahun ini akan berakhir tinggal beberapa bulan lagi, ia pun sontak terkejut dan tidak menyangka sudah akan tutup tahun. “Kalau ditanya di sisa beberapa bulan menuju akhir tahun 2020 mau apa? Gue jawab: Mau gila!”, serunya.

Sedari dulu, kami tahu Tendy adalah seseorang yang paling tidak suka ditanyakan harapannya apa. Menurutnya rata-rata orang kebanyakan pasti bilang berharap yang terbaik, ingin yang lebih baik.  Tapi kali ini berbeda, ia mengagungkan kata “harapan” agar menjadi kenyataan. Berharap bahwa situasi ini akan berubah dan cepat beralih ke fase yang betul-betul normal. Tidak ada lagi ungkapan New Normal. Semua orang bisa kembali bekerja, semua industri berjalan lagi dengan baik, anak-anak kembali sekolah. Meskipun begitu, ia berharap kesabaran yang sudah pernah didapatkan ketika masa pandemi ini tidak hilang saat anaknya sudah kembali ke kehidupan bersekolah. Selain itu ia juga berharap semoga banyak orang yang semakin sadar bahwa masa depan kita sebenarnya ada di tangan kita sendiri, “Jangan berpikir bahwa kalau ada istilah PSBB dilonggarkan, terus udah mulai foya-foya, keluyuran kemana-mana. Bahkan masih tetap kumpul-kumpul dan nggak mau pakai masker. Menurut gue, kalau kita mau semua ini cepat selesai, ayolah dewasa. Semua ada di tangan kita supaya ini semua cepat kembali normal. Amin.

Untuk tahu keseharian Indy Barends bersama anak-anaknya di rumah kala pandemi cek akun Instagramnya: @indybarends

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x