Cari Tahu Lebih Banyak Tentang Bintan Radhita

Bintan mungkin masih terhitung penyanyi pendatang baru di belantara musik Indonesia. Namun, bukan berarti ia tidak punya cerita menarik selama perjalanannya menginjakkan kaki di industri musik. Seperti masyarakat kebanyakan yang menilai 2020 menjadi tahun penuh naik turun, Bintan merasa tahun lalu memberikan begitu banyak pelajaran. Di samping berbagai kesulitan yang hadir di tahun tersebut, ada masa yang membuatnya sangat bersyukur yaitu keputusannya merilis single.

“Inilah yang bikin aku bangkit lagi di musik. Aku sempat bosen berada di dunia musik karena sebenernya aku udah start dari tahun 2015. Terus mungkin di kelas 2 SMA sampai lulus, aku mulai ngerasain capek, bosen, dan pengen istirahat dulu. Pas banget aku habis putus. Itu yang buat seperti mau memulai sesuatu yang baru di 2020 dan memulainya dengan membuat isi curhatan jadi lagu. Di masa-masa itu, aku merasa capek energi, waktu, tenaga karena tiap hari nangis, jalanin aktivitas nggak fokus sampai akhirnya aku mikir harus bangkit lagi. Dari situ aku tulis lagu “Bilamana Nanti”. Setelahnya baru aku ngerasa lega. Jalanin hari-hari seperti biasa dan udah lebih happy. Di situ baru kepikiran untuk lagu ini jadi semangat untuk diri sendiri”, ceritanya.

Lagu “Bilamana Nanti” memang banyak menceritakan tentang kekesalan dan kekecewaan. Tapi Bintan berpikir untuk tidak mau membuatnya jadi alasan para pendengar semakin sedih kalau suasana hatinya sedang sedih. Jadi Bintan membuat lagunya dengan melodi yang up beat agar menjadi semangat bagi dirinya dan orang lain. Salah satu alasan lagunya diharapkan dapat menjadi semangat adalah karena melihat fenomena di 2020. Ia mengakui bahwa 2020 memberikannya banyak pelajaran yang membantunya untuk memiliki motivasi untuk jadi pribadi yang lebih banyak. Banyak sekali pengalaman-pengalaman di tahun kemarin yang mengingatkannya bahwa ia telah berjalan jauh sehingga ia tidak boleh berhenti. Sebaliknya, ia harus melanjutkan perjalanan.

Kami yang baru mengenal Bintan pun menanyakan opininya tentang dirinya sendiri. Menurutnya, ia adalah seseorang yang sangat bisa menerima kritik tapi terkadang ia bisa jadi sangat keras kepala karena memiliki trust issue. Jadi Bintan sulit percaya pada orang lain. Bahkan orang terdekatnya sekalipun. Bintan pun menjelaskan:

“Dalam beberapa hal aku agak susah untuk percaya. Jadi aku bisa jadi orang yang terlalu sensitif. Untuk beberapa orang mungkin mikirnya kaya ‘Ih nggak percayaan banget sih jadi orang padahal itu tuh.. ini nihh..’ karena itu aku sangat membatasi obrolan atau hubungan walaupun aku tetep baik. Mungkin mereka mengiranya aku sombong, atau menutup diri padahal itu adalah salah satu cara aku untuk melindungi diri sendiri, caraku mengantisipasi. Ini mungkin karena hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu yang akhirnya aku menjaga jarak. Bukan berarti aku sombong. Bahkan ketika ketemu orang yang udah lama banget nggak ketemu atau mungkin orang itu pernah jahat sama dan bikin kita jadi jauh, aku sangat bisa melupakan kejadian itu. Itu jadi salah satu cara aku untuk nunjukin past is the past. Sekarang kita udah jadi orang yang berubah, udah jadi orang yang beda. Setiap orang punya kesempatan untuk jadi orang yang lebih baik.”

Sifatnya yang sensitif juga bisa membuatnya dengan mudah merasa gelisah tanpa sebab. Ia bisa jadi senang yang senang sekali tapi tiba-tiba beberapa jam atau beberapa waktu kemudian ia akan merasa sedih. Ia berpikir ini disebabkan oleh hal-hal yang telah ia lewati di masa kecil. “Aku sudah banyak melewati hal-hal yang mungkin anak-anak seangkatan aku belum melewati itu atau belum ngerasain itu gitu. Jadi ketika aku punya keadaan yang beda mungkin bagi temen-temen disekitar aku kaya membingungkan. Mungkin karena mereka belum pernah merasakan itu.”

Bintan menceritakan betapa dulu di sekolahnya ia adalah salah satu anak murid yang kurang memenuhi standar perekonomian anak-anak swasta pada umumnya. Ia merasa banyak tekanan ketika tahu teman-teman sebayanya lebih mampu dairnya. “Aku merasa kayak ‘kok gue beda ya? Kok orang-orang bisa kayak gini ya?”, ungkapnya. Meskipun begitu, pada satu titik Bintan sudah bisa menyadari ternyata perbedaan bukanlah masalah. Perbedaan bisa membuatnya tampil lebih baik. “Aku inget dulu pemalu banget. Tapi aku bisa nunjukin kalo aku sampai sekarang masih beda tapi mereka nggak bisa bilang kalau aku lebih buruk daripada mereka”, tambahnya lagi.

Terdengar dari suaranya yang lirih, Bintan merasa pengalamannya di masa lampau itu cukup berat. Ia mengalami masa kecil yang kurang beruntung dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Walaupun di sisi lain ia percaya setiap orang sudah diberikan porsi rezeki dan ujian masing-masing. Ia juga tetap bersyukur telah mengalami momen itu sebab itulah yang membangunnya hingga sampai di titik ini. Jadi setiap kali mengingat momen itu, ia akan terpicu untuk selalu semangat agar bisa mencapai titik yang lebih tinggi lagi.

Itu kaya nya soalnya berat banget gitu loh, karena menurut aku kaya aku tuh mengalami masa kecil walaupun aku percaya setiap orang tuh udah dikasih porsi rejeki dan ujiannya masing-masing Cuma kaya momen masa kecil kayanya aku bisa bilang mungkin aku tidak seberuntung orang-orang diluar sana yang seangkatan ku, Cuma ketahuilah momen itu yang membangun aku untuk sampai dititik ini gitu dan aku akan selalu ingat momen itu sehingga itu akan selalu memicu aku untuk selalu semangat untuk mencapai titik yang lebih lagi.

Bintan juga mengakui bahwa ia tipe orang yang tidak pernah menyesali apapun yang sudah dilakukan atau yang sudah terjadi. Disengaja maupun tidak. Ia meyakini selalu ada jalan ketika kita sudah menentukan sesuatu. Mungkin untuk beberapa orang ada yang bisa menyesali setelah mereka emosi, marah-marah dan membuat orang sakit hati. Sementara Bintan adalah seseorang yang kalau memang sudah terjadi, baiknya sekarang ia perbaiki dan berusaha tidak mengulanginya lagi. Dalam hal apapun, seperti contohnya dalam memilih jurusan kuliah. Meskipun Bintan tidak suka dengan jurusan yang dipilih, ia akan mencari cara untuk tetap nyaman karena awalnya ia sudah yakin memilih itu. Jadi ketika ternyata ia menyadari kesalahannya, ia akan berusaha menerima konsekuensi dari pilihannya. Sebab ia merasa pasti ada hikmahnya di balik kesahalannya itu dan nanti ditahap kehidupan selanjutnya, ia percaya akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang lai, yang bisa dipilih. Jadi ia tidak mau berkata, “Duh seharusnya gue gitu.” Bintan tahu benar ia tidak bisa melompati waktu dan proses.

Menutup pembicaraan, Bintan menyematkan pesan untuk kita semua, “Hidup itu keras banget. Kita nggak pernah tahu dengan apa yang akan terjadi kedepannya. Sehebat apapun lo atau sebiasa apapun lo yang paling penting dalam hidup adalah bermanfaat untuk orang lain. Jadi selalu pegang prinsip itu karena ketika kita bermanfaat untuk orang lain, kita juga secara otomatis bikin orang lain bahagia dan itulah kebahagian yang sesungguhnya.”

Telusuri sisi lain Dikta di akun Instagramnya: @dikta

Penulis: Aulia Meidiska

Fotografer: @bimodianp

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x