Christine Hakim & Makna Sebuah Piala Citra

Festival Film Indonesia 2020 belum lama usai digelar. Meski di tengah pandemi, FFI 2020 diadakan dengan protokol kesehatan yang ketat. Plenary Hall Jakarta Convention Center dipilih menjadi tempat diselenggarakannya ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia tersebut. Berbagai media sudah ramai memberitakan para peraih Piala citra 2020. Para sineas peraih penghargaan pun dengan gegap gempita memboyong Piala citra dan membagikan momen kebahagiaan mereka di sosial media masing-masing. Ucapan selamat tak henti diberikan oleh sahabat, keluarga dan sesama pekerja film. Ditengah masa pandemi, bisa jadi ini momen paling membahagiakan di tahun 2020 bagi peraih Piala citra malam itu. Lalu, jika kita coba lihat lagi, sebetulnya apa makna dari diraihnya sebuah Piala citra? Hanya untuk mendapatkan kesenangan yang sudah digambarkan tadi, atau lebih dari itu?

Dalam bidang apapun, penghargaan akan membawa makna motivasi, baik simbolis maupun pragmatis. Sebuah penghargaan layak digelar jika memenuhi setidaknya tiga fungsi. Pertama, penghargaan harus terlihat dan dikenal oleh setiap artis atau pekerja seni. Kedua, penghargaan harus memiliki prestise yang tinggi. Dan ketiga, penghargaan harus demokratis, atau dalam jangkauan calon nominasi. Penghargaan FFI memenuhi ketiganya: FFI tentu dikenal oleh hampir seluruh pekerja seni, memiliki prestise atau menjadi ajang yang bergengsi, dan FFI merupakan penghargaan yang demokratis. Maka, tak heran jika mereka yang mendapatkan Piala citra menjadi layak diperhitungkan di industri film. Sementara mereka yang belum mendapatkannya akan termotivasi menunjukkan kemampuan sebaik-baiknya untuk perfilman Indonesia dengan harapan suatu hari memperoleh Piala Citra.

Piala Citra mulai diberikan di tahun 1966 kepada pemenang penghargaan Festival Film Indonesia. Piala citra yang dipergunakan hingga FFI 2007 ini merupakan hasil rancangan dari seniman patung (Alm) Sidharta. FFI yang semula diselenggarakan oleh Yayasan Film Indonesia (YFI) diambil alih oleh pemerintah pada tahun 1979. Piala citra kemudian disahkan oleh menteri penerangan masa itu yaitu Ali Murtopo. Citra sendiri yang berarti bayangan atau image awalnya sebagai sebuah sajak karya Usmar Ismail. Sajak ini kemudian dijadikan sebagai karya lagu oleh Cornel Simajuntak. Berikutnya Usmar Ismail menjadikannya sebagai sebuah film. Dalam tradisi FFI Citra kemudian dijadikan nama piala sebagai simbol supremasi prestasi tertinggi untuk bidang perfilman.

Festival Film Indonesia sendiri diadakan di tahun 1955 dan berlanjut pada tahun 1960 dan 1967 dengan nama pekan apresiasi film nasional sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973. Mulai penyelenggaraan tahun 1979 sistem unggulan (nominasi) mulai dipergunakan FFI yang sempat terhenti pada tahun 1992 dan baru diselenggarakan kembali tahun 2004. Setahun setelah FFI rutin digelar, yakni tahun 1974 seorang aktris bernama Herlina Christine Natalia Hakim yang kemudian kita kenal dengan nama Christine Hakim, meraih Piala citra pertamanya lewat film Cinta Pertama (1973) karya Teguh Karya. Christine Hakim kala itu meraih penghargaan sebagai Pemeran Utama Wanita dengan Pujian. Pada FFI 1977, Christine Hakim kembali meraih penghargaan Aktris Utama Terbaik dalam film Sesuatu yang Indah (Wim Umboh, 1976). Piala Citra selanjutnya yang diraih oleh Christine Hakim sebagai Aktris Utama Terbaik lainnya adalah FFI 1979, dalam film “Pengemis dan Tukang Becak” (Deddy Armand,1978), FFI 1983, dalam film “Di Balik Kelambu” (Teguh Karya, 1983), FFI 1985, dalam film “Kerikil-Kerikil Tajam” (Sjuman Djaya, 1984) dan FFI 1988, dalam film “Tjoet Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1988).

Tahun 2004, untuk pertama kalinya FFI kembali digelar setelah terhenti selama 12 tahun, Christine Hakim tetap menunjukan eksistensinya. Meski kala itu ia tak pulang membawa Piala Citra, namun ia berhasil membuktikan bangkitnya kembali perfilman Indonesia masih akan tetap diwarnai oleh perannya di industri film. Christine Hakim membuktikan hal tersebut dengan dirinya yang masuk nominasi sebagai aktris terbaik dalam film “Pasir Berbisik” (Nan Achnas, 2001). Pada tahun 2014, Christine Hakim kembali meraih Piala Citra untuk Aktris Pendukung Terbaik lewat film “Pendekar Tongkat Emas” (Ifa Isfansyah, 2014). FFI 2016, Aktris Pendukung Terbaik kembali diraih oleh Christine Hakim lewat film Kartini (Hanung Bramantyo, 2017). FFI 2020, menjadikan Christine Hakim sebagai pemain film dengan peraihan piala citra terbanyak sepanjang masa. Melalui film “Perempuan Tanah Jahanamyang disutradarai oleh Joko Anwar, Christine Hakim meraih penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik. Ini  menjadi piala citra ke-9 yang diraih oleh Christine Hakim. Lagi-lagi Ia berhasil membuktikan eksistensinya di industri film Indonesia.

Penghargaan yang telah diraih Christine Hakim nampaknya menjadi motivasi bagi banyak sineas. Bukan sekadar jumlah piala yang telah ia dapat, namun konsistensi dalam berkarya dari seorang Christine Hakim bisa ditiru oleh kita semua dalam bidang pekerjaan apapun. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Christine Hakim menutup pidato kemenangannya dengan,  “Penghargaan ini sekaligus membuktikan untuk tetap konsisten, belajar terus seumur hidup saya, tidak boleh berpuas diri, tidak boleh berhenti di satu titik, tidak boleh sombong dan tidak boleh angkuh. Kalau saya memang belum boleh pensiun, insyaallah saya akan terus menjaga amanat ini”.

Dapatkan inspirasi gaya hidup lebih hijau darinya di @dominiquediyose

Penulis: Emira P. Pattiradjawane

Fotografer: Berbagai sumber

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x