Dian Hadipranowo: Bermusik Hingga Akhir Hayat

Nama Dian Hadipranowo yang lebih sering dikenal dengan Dian HP memang sudah tidak lagi asing di masyarakat kita. Karyanya telah mewarnai industri televisi Indonesia sejak dulu, mengiringi berbagai jenis program TV serta konser musik penyanyi-penyanyi tersohor Indonesia. Wanita yang lahir di Tunisia, 2 Agustus 1965 ini pun pantas mendapatkan label Child Prodigy karena di usianya dulu yang masih amat dini, Dian sudah bisa bermain piano dan membaca partitur sederhana. Bahkan sebelum memasuki Sekolah Dasar!

Ia juga mengakui sebenarnya talenta bermusiknya dipengaruhi oleh kedua orang tua. Walaupun tidak benar-benar berkecimpung di industri musik, ayahnya yang adalah mantan diplomat sangat menyukai musik dan kesenian. Sementara ibunya merupakan penyanyi hingga SMA. Bisa dibilang, keduanya sangat memengaruhi Dian untuk menekuni dunia musik bahkan secara otodidak. 

Mengawali karier di dunia musik

Pertama kali menjalani karier profesional sebagai seorang penata musik, ia mengakui bahwa ada unsur ketidaksengajaan. “Saya memang sudah kuliah musik, tapi kemudian saya ikut dengan senior-senior yang sudah bekerja jadi pemain musik. Akhirnya saya ‘dicemplungin’ untuk coba bikin aransemen. Ternyata setelah ikut main sana-sini, saya dijadikan session player (musisi paruh waktu, tidak terikat satu grup pemusik —red.). Dari sana saya sering diajak ke mana-mana hingga akhirnya mulai menulis aransemen untuk tingkat yang lebih besar yaitu orkestra”, ceritanya mengingat kembali masa lalu. 

Setelah banyak belajar dengan para senior, Dian juga mulai dikenal sebagai seorang musisi yang bisa menulis dan mulai menulis untuk berbagai acara sampai ditarik oleh Purwacaraka. Di fase ini, Dian masih menjadi session player dan penata musik untuk pertunjukkan panggung. Dari skala kecil hingga besar. Sesekali, ia juga mulai menjajal menjadi penata musik untuk album rekaman. Berbagai pengalaman yang didapatkan membuatnya menyadari bahwa Dian hanya suka dengan musik. Musik adalah hobi sekaligus pekerjaannya. 

Dian melanjutkan ceritanya, “Saya percaya bahwa kita pasti bisa lebih menguasai sesuatu jika hal tersebut adalah hal yang dicintai. Saya pun memutuskan untuk terjun di dunia musik secara profesional dengan alasan yang penting main musik dan bisa dapat uang dari situ. Bersyukurnya, karier saya terus berkembang. Mulai dari jadi pemain, penulis, penata musik album rekaman, film, iklan, teater, terus berkembang sampai ke penata musik sinetron. Semua terjadi secara simultan. Saya beruntung karena mendapat pengalaman bermusik dari berbagai macam kategori sehingga ilmunya bisa digunakan untuk berbagai macam hal berbeda sampai akhirnya bisa punya band sendiri yang berkembang jadi orkestra.”

Bermusik hingga akhir hayat

Ketika ditanya, “Sampai kapan akan menekuni musik?”, Dian menjawab tanpa pikir panjang,  “Sampai Gusti Allah memanggil. Semampu saya, pasti akan terus saya kerjakan karena saya diberikan talenta ini pasti ada maksudnya. Buat apa saya sia-siakan? Lebih baik saya bawa sepanjang hidup. Syukur kalau diberikan umur panjang, ketika tua nanti mungkin saya bisa membagikan ilmu ini pada orang lain ketika sudah tidak lagi bisa main di panggung.”

Komitmen Dian di dunia musik terbukti ketika pandemi. Ia tidak menyerah dengan keadaan dan tetap berkarya meski harus secara online. Beruntungnya, pekerjaan tetap datang diselingi dengan kegiatan baru yang sedang ia tekuni yaitu kembali kuliah. Ia merasa ternyata di masa pandemi ini banyak pelajaran yang didapatkan. Selain pengalaman bermusik di rumah saja, ia bisa menyelingi waktu untuk menambah wawasan lewat kuliah. Di masa pandemi ini, Dian juga merasa bisa lebih bersilaturahmi dengan banyak orang. Bahkan dengan orang-orang yang sudah sangat lama tidak bertemu, orang-orang yang dulu sulit untuk bertemu karena jarak dan waktu. Dengan teknologi, mereka bisa kembali berkomunikasi dan bertukar kabar.

Kritik untuk dunia musik saat ini

Dia menyatakan bahwa tidak pernah ada rasa khawatir terhadap talenta-talenta di dunia musik Indonesia. Para musisi senior dan junior memiliki kemampuan yang luar biasa. Akan tetapi, masih banyak musisi yang kurang baik di urusan manajemen seperti mengatur waktu dan memasarkan karya agar dapat sampai pada masyarakat. Dian menambahkan, “Berkomunikasi dengan klien juga harus dipikirkan, supaya karier dapat berlangsung dalam kurun waktu yang panjang, kita harus bisa memasarkan diri dengan santun dan elegan. Harus bisa mengatur waktu dengan baik agar pekerjaan bisa diatasi dan rampung dengan baik. Tentu tidak hanya memikirkan uangnya saja tapi juga memikirkan kualitas. Nah, dengan time management yang baik, kualitas juga akan terjaga.”

Tidak berhenti di sana, Dian juga mengakui adanya kekhawatiran tentang musik anak-anak. Kurangnya lagu anak-anak yang layak didengar dapat jadi persoalan budaya. “Kita tahu musik sangat bermanfaat bagi tiap individu. Termasuk anak-anak. Setiap hari di seluruh dunia lahir bayi-bayi yang jika diperdengarkan musik yang tepat untuk mereka pasti akan mendapatkan manfaatnya. Sekarang ini anak-anak banyak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa dengan lirik yang bahkan mereka tidak mengerti. Keberadaan lirik yang nyeleneh bukanlah salah lagu, pencipta atau penyanyinya. Adalah tugas orang tua untuk dapat menyaring lagu seperti apa yang pantas dan baik untuk anak-anak sesuai dengan usia mereka”, tutup Dian dalam perbincangan singkat kami. 

Cari tahu lebih banyak tentang Dian Hadipranowo melalui @dianhp_music

Penulis: Aulia Meidiska

Pewawancara: Emira P. Pattiradjawane | @emiraem

Fotografer: Thomas Sito

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x