Kebahagiaan Itu Deket, Kita Yang Ke Mana-Mana

Wafda mencuri perhatian kami ketika Ia bermain dalam sebuah serial HBO Asia berjudul “Grisse”. Dalam serial itu, Wafda berperan sebagai Bakda, seorang pemberontak yang berusaha memperjuangkan kemerdekaan rakyat Grisse. Tahun 2020, kami kembali teringat Wafda karena salah satu film yang Ia bintangi, berjudul “Generasi 90an: Melankolia” ditunda penayangannya akibat pandemi covid-19. 

Kami pun berkesempatan ngobrol dengan Wafda ditengah kesibukannya yang sedang mempersiapkan syuting film “Balada Si Roy”, tentang arti 2020 baginya. Wafda merasa patut bersyukur di tengah 2020 yang bisa dibilang sulit. Bersyukur karena masih banyak orang yang jauh lebih kesulitan dibanding dirinya. Wafda bercerita kalau adik kandungnya yang seorang musisi mengalami kesulitan luar biasa di 2020. Banyak acara manggung adiknya terpaksa dibatalkan akibat pandemi. Melihat hal itu, Wafda justru merasa ini saatnya ia sebagai kakak berperan untuk adiknya. “Gue support adek gue, gue merasa nggak perlu liat jauh keluar, tapi keluarga kita sendiri aja dulu”, ujar Wafda. Memaknai 2020 dalam satu kata, Wafda memilih kata “sadar”. Baginya banyak hal yang selama ini terlupakan atau tidak disadari. Seperti halnya kebahagiaan yang sering tidak disadari.  “Bagi gue, kebahagiaan itu deket, kitanya aja yang kemana-mana”.  Momen pandemi di tahun 2020 betul-betul dimaknai Wafda sebagai sesuatu yang membawanya menjadi lebih bersyukur dan memiliki kesadaran penuh. Baginya, sesimpel di rumah aja, menghirup udara segar dan melihat yang hijau-hijau. Hal-hal tersebut yang menurut Wafda sebelumnya selalu dikesampingkan sebelumnya. Wafda juga merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri. Banyak momen-momen di 2020 yang membuat ia merenung di mana Wafda mengaku jauh lebih menghargai waktu. “Dulu, kalau janjian suka bilang, bentar lagi OTW, padahal baru mau mandi. Sekarang nggak bisa, soalnya mall tutup lebih cepet. Gitu aja bikin impact lho dalam hal menghargai waktu”.

Lalu, bagaimana tahun 2021 menurut Wafda? Kami pun bertanya mengenai peruntungannya di tahun 2021 melalui zodiak atau ramalan.  Wafda menjawabnya sambil sedikit berpikir. “Kalau dibilang percaya sih nggak juga, tapi gue menikmati keseruan-keseruannya kalo misalkan bener”,  jawab Wafda. Wafda kerap merasa zodiak terkadang ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Wafda yang berbintang gemini merasa apa yang dibaca tentang zodiaknya ada benarnya. Misalnya, bintang Gemini yang dikenal selalu bimbang dalam menentukan, terbawa juga di kehidupan sehari-hari Wafda. “Gue kan Gemini, gue kalau cukur jenggot aja suka bimbang, mesti nanya nyokap, cukur segini udah cukup apa belum. Jadi gue pikir bener juga ya yang dibilang horoskop-horoskop itu”, ungkap Wafda.

Dalam hal mencari pasangan pun Wafda kerap mengaitkannya dengan horoskop atau zodiak. Namun ia hanya menganggap itu sebagai seru-seruan saja. Berdasarkan pengalamannya, Wafda merasa zodiak Virgo cocok dengan dirinya. “Kalau yang cocok untuk berteman dan nyambung itu bintang virgo. Mungkin karena kebetulan nyokap gue juga virgo dan tanpa sengaja teman-teman dekat gue juga Virgo”. Wafda mengaku suka dengan perhatian-perhatian kecil yang kerap ia dapatkan dari orang yang berbintang Virgo. “Perhatian-perhatian yang dikasih Virgo tuh seperti perhatian-perhatian kecil, misalnya gue tuh mau minum tiba-tiba udah dibukain tutup botolnya. Ohh..iyaa gue butuh sosok virgo di hidup gue!”, ujar Wafda sambal tertawa.

Jika Wafda ditanya tentang apakah ada pendapat orang yang lain selama ini menilai dirinya salah dan ingin ia koreksi, maka jawaban Wafda adalah: tidak ada. “Nggak ada yang perlu dibenerin sih, gue ya gitu aja, genuine aja”. Wafda mengakui bahwa membangun relasi yang sangat dekat dengan para follower di media sosial adalah dengan menampilkan diri yang apa adanya. Menurutnya, cover lagu yang kerap dipublikasi juga dibuat sederhana. Kalau bisa mungkin hanya dengan kamera handphone, tanpa perlu menggunakan studio atau dekor tertentu. Pilihan caption juga ia buat seringan mungkin dan disisipkan candaan. “Gue buat supaya mereka merasa live Instagram gue bener-bener hidup, bukan kaya mereka lagi liat katalog majalah atau kaya lagi searching nama gue di Google”. Begitulah prinsip hidupnya: jujur. “Buat gue jujur tuh core dari sabar dan ikhlas. Kita nggak bisa sabar kalau kita nggak jujur”. Wafda membagi kisahnya yang dulu tidak bisa bilang ‘tidak’ ke temannya. “Gue orang yang susah bilang nggak ke temen-temen atau ke siapapun, misalnya gue diajak pergi padahal sebenarnya gue mau tidur dan ngantuk banget. Tapi tetep gue temenin, yang akhirnya percuma aja karena pikiran sama jiwa gue nggak di sana karena pengen dirumah”, ungkap Wafda. Untuk itu baginya jujur menjadi sangat penting. Belajar dari hal itu, kini ia sudah bisa lebih jujur ke teman-temannya, jika memang tidak ingin pergi ia akan bilang terus terang dan hal itu membuat Ia lega.

Kejujuran yang selalu diterapkan di kehidupannya  membawanya merilis sebuah buku puisi berjudul “Sebelum”. “Nah iya, ini  dari apa? dari kejujuran itu. Gue jujur, dari apa yang dirasain gue tulis-tulis, dan ternyata bisa menghasilkan sesuatu, ya buku ini”. Bermula dari dirinya yang suka menulis caption di Instagram dan twitter, salah satu penerbit menghubunginya, menawarkan agar caption-caption tersebut dibuat menjadi sebuah buku. Sempat tidak percaya, Wafda yang saat SMA pernah dikeluarkan dari pelajaran Bahasa Indonesia akhirnya menerima tawaran tersebut. Baginya buku ini bisa menjadi sesuatu yang ditinggalkan untuk anak cucunya kelak. “Dengan adanya buku ini, artinya ada sesuatu yang bisa gue tinggalin buat anak, cucu gue, paling nggak mereka bangga, ‘Oohh ini bikinan kakek gue’ atau ‘Wah ini bikinan bokap gue’”. Ungkap Wafda sambil tersenyum.

Main film sudah, rilis buku juga sudah, nyanyi apalagi. Wafda justru pertama kali memulai kariernya dari dunia musik, sebagai vokalis “Volume Band”. Ini membuat kami bertanya padanya: Apakah ada hal yang masih ingin dilakukan namun keinginan tersebut belum pernah Ia ungkapkan? Wafda menjawab sambil malu-malu, “Sebenarnya ada satu keinginan besar gue, cuma takut jadi dibilang riya, tapi semoga yang membaca ini bisa ikut berdoa dan mengaminkan keinginan gue ini. Gue pengen bangun masjid”.  Wafda pun tidak memiliki alasan pasti kenapa punya keinginan tersebut. Hanya menurutnya, ia ingin ada sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain dan manfaatnya masih terus ada bahkan jika ia sudah meninggal. Begitu juga dengan seni peran yang digeluti, Ia ingin setiap peran yang dimainkan memiliki manfaat untuk penontonnya.  “Kalau ada orang yang termotivasi dari peran yang gue mainkan, itu sampe kapanpun  pahalanya nggak akan putus buat gue”, curhatnya yang belakangan  mulai memikirkan hal-hal semacam itu. 

Keseruan dan kejujuran-kejujuran Wafda lainnya dapat dilihat dan diikuti melalui Instagram Wafda @Wafda90.

Penulis: Aulia Meidiska

Fotografer: @bimodianp

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x