Mereka yang Beri Dampak Besar Dalam Hidup

Kali pertama saya bertemu dengan Dominique Diyose di Bali, banyak sekali yang bisa kami bicarakan. Mulai dari dunia hiburan hingga gaya hidup ramah lingkungan. Meski sudah menjadi model papan atas, saya tidak pernah merasa ada jembatan di antara kami ketika berada di satu meja yang sama. Ya, Dominique Diyose rasanya sudah bisa dipertimbangkan sebagai salah satu model senior di Indonesia. Saya selalu takjub setiap kali mendengar ceritanya sudah terjun ke dunia modelling dari umur 13 tahun. Ini ia lakukan bukan karena dorongan siapapun melainkan dirinya sendiri.

“Dari kecil aku belajar tari tradisional, kontemporer, dan ikut grup vokal. Mungkin karena ikut kegiatan-kegiatan seni tersebut aku merasa sudah dekat dengan dunia hiburan. Lalu pas lihat fashion show, aku selalu punya ketertarikan lebih. Buat aku sesuatu yang indah banget melihat para peragawati seperti Naomi Campbell, Linda Evangelista, dan Cindy Crawford, bisa melenggang memakai pakaian yang kelihatannya biasa. Dulu aku terkesima melihat Mbak Oky Asokawati, Arzeti, dan Ria Juwita yang akhirnya malah jadi mentor dan dekat sekali sama aku sampai sekarang. Sampai-sampai aku dan Mba Ria sudah seperti ibu dan anak. Dulu aku sering memerhatikan bagaimana mereka jalan dan selalu merasa baju-baju yang dikenakan mereka jadi terasa berbeda. Ketika mereka ada di panggung terasa seperti punya dunia sendiri. Melihat itu, aku punya keinginan kuat untuk jadi salah satu dari mereka. ”

Akhirnya Dominique pun masuk ke salah satu sekolah modelling, John Casablancas. Dari sekolah reguler hingga advance, ia mengaku diajarkan oleh para senior yang banyak sekali memberikan inspirasi. Selain itu, bergabung di John Casablancas yang memiliki kerja sama dengan salah satu model agency ternama di dunia, Elite Model Management, juga jadi salah satu pintunya melebarkan sayap di dunia modelling. Namun seiring berjalannya waktu ketika Dominique mulai memilih untuk mengurangi fashion show, ia selalu “melarikan diri’ ke alam. Traveling menjadi me time Dominique Diyose. Ia bisa pergi sendiri atau dengan beberapa teman saja. Salah satunya adalah Advina Ratnaningsih yang juga adalah seorang model Indonesia.

“Advina yang mengenalkanku naik gunung. Kami beberapa kali traveling bareng terus. Pertama kali kami naik gunung aku tiba-tiba kaya terketuk menyadari betapa bagusnya pemandangan alam dari atas gunung. Waktu kecil aku punya memori tinggal di desa dan setiap kali pergi ke alam, memorinya terulang. This is actually some enlightenment. Akhirnya setelah itu aku mulai banyak cari tahu tentang sampai, alur kehidupan dari hulu ke hilir dan rantai makanan. Makin lama aku makin tahu banyak soal kondisi lingkungan kita dan berbagai cara untuk bisa melestarikannya. Lalu aku ketemu dengan suamiku, Ivan yang memberikan point of view lebih tentang lingkungan. Dia sangat menginspirasiku untuk lebih sadar lagi. Bukan untuk mengubah gaya hidupku secara drastis tapi dia menanamkan berkesadaran yang lebih praktikal. Lebih in-depth.”

Tidak cuma itu saja, Dominique juga menyebut nama Davina Veronica yang juga salah satu senior di dunia modelling. Sebelum Dominique banyak terlibat dalam kegiatan lingkungan, Davina sudah lebih dulu jadi pemerhati lingkungan. Mereka pernah terlibat dalam BOSF (Borneo Orangutan Survival Foundation). “Aku sangat respect sekali orang-orang di BOSF karena mereka kasih ruang buatku mendalami dan belajar tentang orangutan serta hutan di kalimantan. Jadi mungkin orang-orang yang memengaruhi kesadaranku soal lingkungan nggak banyak, tapi mereka memberikan impact yang besar sekali. Sampai aku akhirnya menemukan lingkungan jadi passion yang sekarang pun jadi bagian penting dalam hidup.”

Selain orang-orang hebat yang memengaruhi Dominique, Bhutan juga jadi tempat yang membuatnya semakin tertarik mendalami soal lingkungan. Disebut-sebut sebagai negara yang hampir tanpa emisi, Dominique merasakan dan melihat sendiri bagaimana berada di sana begitu tenang dan nyaman dengan lingkungan yang minim polusi. Katanya, rasa buah dan sayurnya beda sekali dengan yang ada di Indonesia. Bahkan di sana hampir 70% pembangunan dialokasikan untuk melestarikan lingkungan sisanya baru untuk peradaban. Tidak heran betapa hasil buminya begitu segar dan sehat. Memang, Bhutan adalah negara kecil. Berbeda dengan Indonesia yang wilayahnya sangat luas sehingga pemerataan pun tidak semudah itu dilakukan. Tapi yang membuat Dominique terkesan adalah kebiasaan melestarikan lingkungan yang jadi budaya turun temurun. Mereka tidak punya mall dan tidak ada international food chain. Jadi sedikit sekali sumber-sumber yang menyumbang kerusakan lingkungan. Kurang lebih satu minggu di sana. Dominique rasanya kembali ke masa kecilnya tinggal di desa. Melewati perkebunan dan sawah nan indah serta menghirup udara segar.

Tahu bahwa Dominique pasti akan tetap banyak terlibat dalam kegiatan lingkungan, saya pun bertanya padanya soal apalagi yang akan dilakukannya lima sampai lima tahun ke depan. Ia menjawab, “Aku pasti tetap ingin melakukan lebih untuk alam. Ia adalah bagian dari hidup kita. Nggak usah dibawa terlalu muluk muluk banget yang penting konsisten untuk terus menjaga dan kalau bisa memperbaikinya. Lima sampai sepuluh tahun ke depan tentunya aku masih tetap membesarkan anak. Tapi aku mau jadi orang tua yang mengenalkan mereka pada budaya. Toh kami juga sudah tinggal di Bali dengan segala adat istiadat dan budaya yang kental. Kami juga udah tinggal di desa dan hidup bertetangga. Aku dapat banyak pelajaran banget dari tetangga dan itu buatku merasa lebih kaya. Bisa hidup selaras dan harmonis lingkungan menurutku akan jadi sesuatu yang berharga banget ke depannya.”

Dapatkan inspirasi gaya hidup lebih hijau darinya di @dominiquediyose

Penulis: Aulia Meidiska

Fotografer: Ade Suardika

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x