Pandemic’s Book List: Jay Subyakto & Sherina Munaf

Penulis: Emira P. Pattiradjawane

Mengenal seorang Jay Subyakto saat pertunjukan teater dan tari “Matah Ati” (Atilah Soeryadjaya, 2012). Bagi saya, Mas Jay adalah seorang yang jenius. Tidak akan saya lupakan pengalaman saya mewawancarai beliau sebagai Artistic Director pertunjukan “Matah Ati”. Ia bercerita tentang konsep panggung dibuat miring yang belum pernah saya lihat dipertunjukan di Indonesia sebelumnya. Bertahun kemudian, saya dipertemukan kembali di film yang ia sutradarai, “Banda: The Dark Forgotten Trail” (2017). Saya yang kebetulan menjadi publicist film itu, kerap menemani Mas Jay promo dan jadi punya waktu ngobrol di sela-sela promosi.

Saya kembali kagum dengannya, pengetahuannya sungguh banyak, saya pikir Mas Jay pasti banyak punya referensi bacaan. Selesai dengan film Banda, lama kami tidak bertemu. Sampai ketika pandemi merebak, saya tiba-tiba teringat Mas Jay. Ia pasti banyak menghabiskan waktunya untuk membaca di rumah. “Kira-kira bacaan apa saja yang Mas Jay baca, ya”, tanya saya dalam hati. Akhirnya saya pun menghubunginya melalui pesan singkat dan dibalas, “Setengah jam lagi saya telepon ya”. Dan berikut adalah buku-buku yang dibaca oleh Jay Subyakto selama pandemi. 

How to Be Human: The Ultimate Guide to Your Amazing Existence

Oleh Graham Lawton

Menurutnya, buku ini bagus karena para pembaca diberikan pengetahuan menyeluruh tentang diri dan tubuh kita. Di dalamnya juga dijelaskan tentang pentingnya mengetahui masa lalu kita yang terdalam, tentang emosi dan kematian. “Yang membuat bagus adalah buku ini disusun per artikel. Misalnya, satu artikel tentang Why is your physic unique? Lalu nanti ada ilustrasinya, bahkan ada pembahasan apa perbedaannya antara laki-laki dan perempuan”, begitu terang Mas Jay.

 

Our Planet 

Oleh Alastair Fothergill, Keith Scholey, Fred Pearce

Selanjutnya adalah “Our Planet” yang juga ada serial-nya di Netflix. “Saya sering denger orang bilang tidak ada planet B. Padahal sebenarnya ada ribuan planet yang seperti bumi. Cuma memang jauh aja. Saya dari dulu nggak pernah percaya bahwa kehidupan hanya ada di planet kita aja. Di salah satu majalah National Geographic juga pernah ada artikel berjudul “We are not alone” yang membuktikan bahwa ada juga planet yang punya oksigen seperti  di bumi. Juga tentang bagaimana sebenarnya perubahan iklim adalah masalah yang lebih serius ketimbang Corona. Saya lihat di New York ada yang menyatakan bahwa waktu yang kita punya tinggal 7 tahun lagi karena kerusakan bumi yang terus-menerus. Ini jadi buat saya percaya kalau Corona adalah jawaban alam atas karukusan manusia”, ceritanya lagi. Beliau mengakui berlangganan National Geographic setiap bulannya. Dengan berita Corona yang sering simpang siur, kedatangan majalah ini setiap bulan membuatnya jadi bisa lebih berpikir kritis dan tidak terhanyut dalam hoax

 

Aliens: Past Present Future

Oleh Ron Miller

Alien juga menarik perhatian Mas Jay. Buku ini menjabarkan bahwa sejak zaman dahulu kala sebenarnya sudah pernah ada yang mendarat dan keunikan fenomena lainnya. Contohnya Piramida. Bagaimana bisa orang-orang terdahulu bisa membuat Piramida tapi sekarang tidak ada lagi orang yang bisa buat. Mas Jay merasa peradaban seperti mengalami reset. Seperti juga segelintir negara-negara yang dulu sangat maju dengan kualitas peradabannya tapi sekarang malah mengalami kemerosotan. 

 

Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup D’Etat in Indonesia

oleh John Rosa

Buku ini menceritakan tentang peristiwa G30SPKI yang ditulis oleh John Rosa. Selain buku ini, John Rosa juga menulis buku tentang apa yang terjadi di tahun 1965. “Saya bingung kalau dengar, katanya sejarah mau dihilangkan. Tahun ‘65 sejarahnya nggak sama seperti kenyataannya. Terus kenapa kejadian tahun 1998 tidak masuk di catatan sejarah? Sehingga anak-anak sekarang nggak tahu kenapa kita bisa mengalami reformasi, nggak tahu kalau kita pernah dijajah oleh bangsa sendiri selama 32 tahun.” Terang Mas Jay. Mas Jay melanjutkan bahwa, “sejarah selalu menarik perhatian saya, supaya kita tidak buat kesalahan lagi”.

Lain Jay Subyakto, lain lagi dengan Sherina Munaf. Saya mengenalnya ketika kerap menemaninya promo film “Wiro Sableng” (Angga Dwimas Sasongko, 2018), di sela-sela waktu promo, Sherina sering bertukar cerita dengan para pemain lainnya. Tak jarang juga ia menunggu waktu sambil membaca buku. Saya ingat ketika ada satu media yang usai mewawancarainya tentang perannya di film, menanyakan buku apa saja yang menjadi favorit Sherina. Jawabannya yang paling saya ingat adalah buku “Keajaiban di Pasar Senen” karya Misbach Yusa Biran. Tapi kali ini Sherina hanya menyebutkan satu buku yang sedang ia baca yaitu “How To Be Stoic” oleh Massimo Pigliucci.

Menurutnya, buku ini berusaha untuk menjelaskan kepada kita, orang-orang yang kurang familiar dengan filsafat, mengenai ajaran stoicisme. Menurut Sherina, penulis buku ini mendorong kita untuk dapat memahami bagaimana cara memilah emosi ketika menghadapi hal-hal yang kadang diluar kuasa kita.

“Aku rasa buku ini adalah alternatif yang sangat baik untuk bidang self-help. Kita sering percaya sama teori self-help yang belum tentu benar, kadang kita juga hidup dalam ilusi yang belum tentu benar karena tidak mau menerima kebenaran yang terlalu pahit. Sebaliknya, buku ini justru mengajarkan kita tentang kebenaran yang tidak selalu manis, mengajarkan bagaimana kita memilah reaksi kita dan mencari kebahagiaan dari situ”, terang Sherina memperkenalkan isi buku. Musisi dan aktris ini pun mengakui bahwa ia sedang suka buku-buku bertema self-help dengan pendekatan filsafat. Baginya, penggunaan filsafat sebagai landasan teori dapat membuat kita lebih kritis sehingga tidak terjebak dalam false positivity. Buku ini bukan buku yang memberikan optimisme palsu, apalagi motivasi. Buku ini membantu kita untuk mengenali dan memilah emosi untuk bereaksi pada hal-hal yang bisa dan tidak bisa dikendalikan. Ungkapnya lagi, “Kita bisa stres banget ketika hal-hal di luar kontrol kita tidak berjalan sesuai kehendak. Padahal kita sudah berencana, contoh dalam skala besar adalah pandemi ini, rencana bisa saja tidak terjadi di luar kemauan kita dan pada akhirnya adalah bagaimana cara kita menempatkan reaksi emosi.”

Sherina juga beropini bahwa buku ini seakan bisa menyelamatkan manusia dari hal-hal yang mungkin memporak-porandakan kita. Apalagi di dalamnya ada praktik-praktik nyata yang bisa dilakukan untuk membiasakan diri memilah emosi. Walaupun setelah membaca mungkin belum benar-benar mempraktikkan, at least, kita bisa punya kesadaran tentang pemilahan emosi dan reaksi tersebut. Tapi cara ini hanyalah salah satu opsi. Bukan jadi satu-satunya.

Konten-konten yang tengah dikembangkan oleh Yoshi dapat dilihat di akun Instagramnya @yoshi_sudarso, Twitch: Yoshi_Sudarso atau Twitter: yoshi_sudarso.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x