Ratna Riantiarno: Berjuang Di Dunia Teater

Bagi mereka yang masa kecilnya lekat dengan film “Petualangan Sherina”, nama Ratna Riantiarno mungkin akan mengingatkan pada sosok ibu Sadam, anak laki-laki teman Sherina. Namun jauh sebelum itu, ia telah lama menggeluti dunia seni peran, khususnya teater. Bermula di Teater Kecil, teater milik almarhum Arifin C. Noer, lalu bersama suaminya, Norbertus Riantiarno atau yang lebih dikenal dengan nama Nano Riantiarno, mendirikan Teater Koma yang tahun ini berulang tahun ke-44.

Cita-cita Menjadi Seorang Pemain Sandiwara

Ketertarikan Ratna pada dunia seni bermula ketika mempelajari tari Bali. Tari Bali yang ia lakoni sejak berumur sembilan tahun itu kemudian membawanya keliling dunia untuk berbagai pertunjukan. Dari menjadi penari di Istana Presiden Indonesia hingga menjadi penari di sebuah restoran Indonesia di New York yang membuatnya harus bermukim di sana selama satu setengah tahun telah ia jalani. Sekembalinya ke tanah air, ia menyadari apresiasi terhadap seni tari di Indonesia masih sangat kurang. “Aku banyak menari di luar negeri. Tapi begitu pulang ke Indonesia, aku melihat bahwa dunia tari kurang dihargai. Pertunjukan tari diadakan hanya untuk acara-acara tertentu saja. Hampir tidak ada pertunjukan tari yang menjual tiket. Jadi, kalau mau jujur, aku merasa dunia tari itu nggak bisa jadi tuan rumah di rumah sendiri,” jelas Ratna.

Kala itu, penari sudah menjadi profesinya. Jika banyak penari yang bercita-cita menjadi seorang koreografer, ia justru ingin menjadi seorang pemain film. Ia pernah sempat ditawari bermain film. Namun, alih-alih membawakan sebuah peran, ia malah bermain sebagai seorang penari Bali. “Ketika itu aku berpikir, apakah pekerjaanku hanya menari saja? Tidak. Harus ada pekerjaan lain. Harus ada pengalaman lain. Sesuatu yang unik yang melengkapi pekerjaanku sebagai penari. Tetap sebuah kesenian, di atas panggung,” tuturnya.

Suatu sore, saat ke pusat kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), tempat ia biasa berlatih tari Bali, ia melihat beberapa aktor dan aktris sedang berlatih teater di halaman belakang kompleks. Ia tertarik dan berpikir harus ikut kelompok teater mereka. Teater tersebut bernama Teater Kecil yang didirikan oleh penyair dan sutradara terkenal, Arifin C. Noer. “Saat itu aku berpikir, aku harus masuk kelompok itu, menjadi pemain teater. Akhirnya aku masuk kelompok itu, entah untuk apa, tapi aku mau menjadi seorang pemain sandiwara,” ungkap Ratna. Pada pementasannya yang pertama, ia berlatih setiap hari selama tiga bulan hanya untuk berperan selama tiga menit. Setelah itu, pada pementasan kedua ia langsung dipercaya memerankan peran utama wanita.

Teater Membantu Karier dan Pekerjaan

Teater mengajarkan Ratna banyak hal. Berbeda dengan seni tari, teater tidak hanya mengajarkan gerak tubuh tapi juga konsentrasi, kepercayaan diri, dan latihan daya hafal. “Kalau dipikir, saya ini cuma lulusan SMA tapi bisa jadi manajer pemasaran sebuah perusahaan Inggris. Saya yakin, itu pasti karena saya belajar teater, bisa hafal banyak hal seperti layaknya saya hafal naskah. Waktu presentasi, masuk ke satu ruangan yang banyak orang, kalau kita nggak percaya diri ya lupain aja semua. Nggak akan berhasil. Tapi saya bisa presentasi dengan percaya diri. Jadi, saya sadar belajar teater membuat saya mendapatkan pelajaran yang bisa saya terapkan di mana-mana,” ungkap Ratna.

Bertahun-tahun ia bekerja di berbagai perusahaan, dari perusahaan mobil Jepang, real estate hingga event organizer. Ia akhirnya berhenti bekerja ketika ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta. “Aku berhenti kerja kantoran ketika harus menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta. Ada seorang wartawan ketika itu bilang ke aku, ‘Mba Ratna nyari duit buat event-event bisa, nyari duit buat kesenian kok nggak bisa’. Aku pikir, benar juga ya. Jadi, ya sudah, aku berhenti dari pekerjaan dan fokus ke kesenian,” ungkap Ratna.

Ibu tiga orang anak ini mengakui teater membantunya berkarier dan bekerja. Namun, teater tidak bisa dijadikan sebagai pekerjaan utama. “Aku dan Mas Nano memang bekerja di mana-mana, karena kami menganggap nggak bisa hidup dari teater di Indonesia. Aku nyambi main film, kadang kami juga nyambi jadi dosen atau aku sering diundang mengisi berbagai seminar keliling Indonesia,” aku Ratna.

Teater Koma dan Kisah Cinta

Teater Koma didirikan pada tanggal 1 Maret 1977 ketika Ratna dan suaminya Nano Riantiarno masih berpacaran. Saat itu, Nano yang tergabung dalam Teater Populer mendapatkan peran sebagai Jayaprana. Alih-alih riset untuk perannya dengan menonton latihan tari Bali yang diikuti Ratna, Nano mendekati Ratna. Mereka sebelumnya sudah saling kenal karena Ratna juga tergabung dalam Teater Kecil. Teater-teater kala itu memang saling mengenal dan mendukung dengan menonton pertunjukan satu sama lain. Mereka berdua akhirnya berpacaran dan memutuskan membentuk Teater Koma bersama sepuluh orang lainnya.

“Ketika pacaran dengan Mas Nano, ayah tanya, ‘Kamu memang melihat Riantiarno dari sisi apa? Dia kan nggak punya pekerjaan tetap? Kalau orang tanya, kamu kok punya pekerjaan tetap, suamimu enggak, kamu enggak apa-apa?’. Saat itu, aku menjawab, ‘Saya sih merasa Mas Nano bisa menulis, suka dapat honor juga dari menulis. Pokoknya saya merasa dia punya sesuatu untuk masa depan. Saya pikir, perkawinan itu dua orang yang membina hidup bersama. Uang, ya, uang bersama.’ Karena jawabanku begitu, ayah merestui, dan aku menikah dengan Mas Nano,” kenang Ratna yang merasa beruntung memiliki ayah yang cukup moderat.

Tidak lama setelah menikah, Nano Riantiarno dikirim ke Iowa, Amerika Serikat untuk sebuah proyek penulisan. Sepulangnya dari Iowa, ia ditawari pekerjaan oleh Goenawan Mohamad, pendiri majalah Tempo. Saat itu, Goenawan Mohamad sedang membuat sebuah majalah bernama Majalah Zaman. Akhirnya, Nano bekerja di majalah tersebut dengan jam kerja yang fleksibel. “Jadi, Riantiarno selama 25 tahun ternyata punya gaji tiap bulan, punya medical treatment juga buat aku dan anak-anak. Ini di luar dugaan hidupku sebelumnya,” lanjut Ratna.

Pengalaman Menonton Teater Itu Harus Dicoba

Di awal kiprah Teater Koma, pasangan Ratna dan Nano merasa tidak mudah bagi orang-orang untuk menerima sebuah pertunjukan teater. Mereka yang kala itu masih bekerja kantoran sambil mengurus Teater Koma kerap mengajak teman-teman kantor untuk menonton pertunjukan Teater Koma. Namun, teman-teman kantor mereka malah hanya mau membeli tiket saja tanpa menonton.

“Dulu kalau di kantor, teman-temanku mau beli tiket untuk menyumbang aja. Aku bilang, aku sih senang kalau tiket teaterku ada yang beli, tapi bukan itu intinya. Aku pengen ada yang datang menonton. Kalau beli tapi nggak mau nonton, ya, dikasih saja ke yang mau nonton. Akhirnya, mereka mencoba nonton, dari 50 orang kantor yang diajak, separuhnya suka,” tutur Ratna.

Menurutnya, sebuah pertunjukan teater memang harus ditonton langsung untuk tahu suka atau tidak. “Aku sadar, aku memang harus menghampiri orang-orang, memaksa mereka menonton pertunjukan teater. Soal suka atau tidak, itu selera. Sama seperti ada yang suka sekali dengan ‘Opera Ikan Asin’ tapi ada yang nggak suka sama sekali, ya, nggak bisa dipaksa. Tapi, mereka harus dikasih pengalaman menonton teater,” sambungnya.

Ratna juga pernah mengajak ikatan sekretaris untuk menonton pertunjukan pantomim yang diproduksi Teater Koma bersama almarhum aktor senior, Didi Petet. “Aku pernah memengaruhi ikatan sekretaris untuk nonton teater, karena kan biasanya ikatan sekretaris nontonnya fashion show. Aku bilang, sekali-sekali nonton teater dong. Akhirnya, mereka mau menonton pertunjukan pantomim bergenre komedi yang dibuat dengan durasi pendek, hanya 45 menit, dan ternyata banyak yang suka,” kenang Ratna.

Ia mengaku sengaja melakukan pendekatan tersebut. Berawal dari situ, beberapa orang akhirnya tertarik menonton pertunjukan Teater Koma di Gedung Kesenian yang berdurasi dua sampai tiga jam, meskipun menurutnya ada juga yang tidak suka dan tidak betah duduk berlama-lama di dalam gedung pertunjukan. “Kalau ada yang akhirnya memang tidak suka, ya, tidak apa-apa. Kita nggak bisa marah. Menonton pertunjukan memang harus dicoba, kita harus mencoba semua cara,” ungkapnya.

Bertahan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun lalu juga berimbas pada kegiatan produksi Teater Koma. Pertunjukan yang seharusnya digelar di tahun 2020 lalu terpaksa diundur ke awal tahun 2022. Teater Koma yang sudah memproduksi lebih dari 150 judul akhirnya memanfaatkan media daring sebagai ‘panggung’ alternatif di tengah pandemi melalui program ‘Digitalisasi Koma’. Program ini menyajikan berbagai dokumentasi pertunjukan Teater Koma dari sebelum pandemi hingga pertunjukan baru di kanal YouTube Teater Koma. Pertunjukan tersebut bisa ditonton dari rumah, baik berbayar maupun gratis. “Ya, ini merupakan upaya berkarya di tengah pandemi. Kalau yang lain mungkin kolosal, kami mulai dengan dua sampai empat orang saja, karena kami juga harus memikirkan kualitas agar reputasi Teater Koma yang kami bangun tetap terjaga,” tutur Ratna.

Teater yang biasanya disaksikan secara langsung beralih disajikan menggunakan teknologi multimedia. Hal yang tidak mudah bagi Teater Koma. “Daring ini menjadi beban juga ya. Tadinya, Mas Nano anti banget sama multimedia tapi keadaan memaksa demikian. Dia juga maunya kalau pertunjukan 45 menit, ya betul-betul 45 menit nonstop. Jadi, memang teater,” ungkap Ratna. Menurut Ratna, pertunjukan teater daring harus diproduksi dengan serius. “Pertunjukan daring kalau kita bikinnya asal, pakai kamera seadanya, siapa yang tertarik menonton? Beruntung kami dapet sponsor kamera. Kalau nggak, itu akan menjadi cost yang tinggi,” lanjutnya. Tetap berkarya melalui media daring menjadi bukti Teater Koma bisa terus ada dan konsisten.

Manajemen Teater Koma

Ratna kerap diminta mengajar dan mengisi seminar mengenai Manajemen Teater. Namun, menurutnya manajemen Teater Koma belum profesional. “Bisa dibilang manajemen Teater Koma itu jauh dari kata ‘profesional’. Saya tidak pernah ada kontrak dengan pemain. Saya selalu bilang, ini komunitas, kalau kalian mau belajar, ya, belajarlah. Ketika ada yang mau masuk Teater Koma juga saya selalu bilang, saya nggak charge apa-apa, tapi kamu harus ikuti aturan main di Teater Koma, harus kerja sama, harus toleransi, harus setia, harus guyub, dan sebagainya. Sanggup apa, nggak? Kalau nggak, sanggup nggak usah,” jelas Ratna. Mengelola teater di Indonesia tidak seperti mengelola teater di luar negeri yang memiliki aturan yang jelas. Teater di Indonesia dikelola secara situasional, mengikuti perubahan pemerintah dan aturannya.

Membentuk komunitas teater di Indonesia juga harus pandai berstrategi, terutama untuk mendapatkan penonton. Hal ini sering ia sampaikan di kelas atau seminar. “Mengajak orang untuk menonton teater itu butuh strategi. Suami saya mana mau mikirin itu, tapi harus ada yang mikirin. Menurutku, sesuatu disebut peristiwa teater, jika ada pertunjukannya, ada tempatnya, ada penontonnya. Itu baru peristiwa teater,” ungkap Ratna.

Hal lain yang juga sering ia sampaikan adalah sulit untuk bisa hidup dari teater di Indonesia sehingga perlu ada pekerjaan lain, selain mengurus sebuah teater. Menurutnya, beberapa teman aktor yang lulus dari jurusan teater tidak hidup dari teater tapi memilih berkarya di film. “Mana bisa sih orang hidup dari teater? Kalau film, industrinya sudah jadi. Kalau teater, nggak bisa. Membawa pertunjukan teater, seperti ‘Sampek Eng Tay’ saja, keliling Indonesia, minimal 40 orang yang berangkat, kostum dan properti juga bisa satu truk sendiri. Beda dengan film yang bisa hanya membawa film dan beberapa pemain,” ungkap Ratna.

Berdasarkan pengalaman Ratna di berbagai festival teater di luar negeri, dukungan dari pemerintah memang sangat diperlukan agar teater dan pelaku teater bisa hidup di Indonesia. “Ketika ikut festival teater di Berlin, mereka bilang negara membayar 40% dari semua pertunjukan. Itu juga berlaku di banyak negara di dunia. Pemerintah ikut membantu teater, karena teater tidak mungkin hidup hanya dengan menjual tiket. Tentunya berdasarkan proposal dan kekonsistenan teater dalam berkarya. Kalau di Indonesia, kami yang sudah konsisten selama 40 tahun, nggak juga digubris,” tutur Ratna sambil tertawa.

Regenerasi dan Harapan Teater Koma

Ketika ditanya mengenai regenerasi, Ratna lantang menjawab, “Memangnya kalau Riantiarno sampai umur 80 tahun masih tetap mau menyutradarai kenapa?”. Regenerasi di Teater Koma menurutnya sudah mulai dilakukan, hanya saja banyak orang yang tidak tahu dan porsinya belum besar. Rangga Riantiarno, putra mereka, beberapa kali telah menyutradarai pertunjukan teater. “Rangga membuat teater-teater yang pentas di sekolah dan museum, pernah juga pementasan di TIM,” jelasnya.

Ia masih memiliki harapan dan impian terbesar untuk Teater Koma, yaitu memiliki gedung pertunjukan sendiri sehingga mereka tidak perlu menyewa. Harapan lainnya, pemerintah bisa turun tangan membantu teater di Indonesia. “Pemerintah harus tahu, teater nggak bisa berjalan hanya dari menjual tiket. Perlu bantuan dari pemerintah,” tegas Ratna.

Kedepannya, ia berharap bisa terus berkarya sebagai aktor dan ingin disebut sebagai pekerja teater. Baginya, menjadi pimpinan produksi di Teater Koma tidaklah mudah. Dulu, ketika Teater Koma hanya berjumlah 12 orang, mereka mengerjakan apa pun bersama. “Orang pikir saya sebagai pimpinan produksi hanya duduk-duduk saja kayak bos. Nggak lah. Saya repot. Banyak hal yang saya urus. Saya pikirkan konsumsi juga, ada yang vegetarian, ada yang nggak bisa makan nasi,” ungkap Ratna. Hal-hal tersebut menurutnya penting, karena semua punya peran yang sama dan penting untuk kesuksesan sebuah pertunjukan. “Bayangkan, kita main seminggu, kalau ada yang sakit satu orang saja, pertunjukan bisa berantakan. Buat kami, di teater itu tidak ada peran besar, tidak ada peran kecil. Semua sama. Itu yang kami pakai sebagai sistem kerja. Jadi, jangan pernah ada yang merasa primadona,” lanjutnya sambil tergelak.

Di akhir perbincangan kami, Ratna kembali mengungkapkan keinginannya untuk terus berakting, baik di film maupun di teater. “Aku rasa, kalau berperan, aku akan terus, ya. Kenapa enggak, kan ada peran nenek-nenek? Terutama karena memang masih punya kelompok. Kata ‘koma’ itu supaya tidak ‘titik’. Kalau bisa, ya, tetep ‘koma’ terus jangan sampai ‘titik’,” pungkasnya.

Cari tahu lebih banyak tentang Fedi Nuril melalui @fedinuril

Penulis: Emira P. Pattiradjawane | @emiraem

Editor: Andi F. Yahya | @andifyahya

Fotografer: Thomas Sito

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x