Tahun 2020 Seperti Berada di Roller Coaster!

Kami mengenal sosok Rama Dauhan dari karya-karyanya yang luar biasa di industri fashion. Seorang desainer yang terkenal dengan inovasinya merancang jas untuk wanita dengan cutting yang pas mengikuti bentuk tubuh mereka. Well, tidak heran karya-karyanya sering sekali digunakan oleh para selebriti Indonesia. Sebut saja Adinia Wirasti yang pernah memakai salah satu rancangannya untuk datang ke premier film atau penyanyi Andien Aisyah yang juga kerap tampil di panggung mengenakan rancangannya.  Mengenal karakternya lebih dalam, seorang Rama Dauhan yang kami kenal adalah seseorang yang pekerja keras dan sangat detail dalam bekerja. Ia juga terlihat tidak pernah berhenti berinovasi untuk karyanya. Sedangkan dalam pergaulan, ia selalu ramah kepada siapapun yang ditemui —sekalipun pada orang yang kurang dekat karena belum lama dikenal seperti kami ini. Kami bisa merasakan ia adalah orang yang menyenangkan, selalu ceria, serta sayang dan peduli dengan sahabat-sahabatnya. 

Nah, kami pun jadi penasaran saat pandemi melanda. Kira-kira dia berubah tidak ya saat harus menghadapi situasi ini? Apa dia masih bisa berinovasi? Paling tidak masih bisa ceria tidak? Masih bisa peduli sama orang lain? Atau jangan-jangan dia malah berpikir tentang dirinya sendiri saja? Akhirnya, daripada sekadar stalking kami langsung mengajaknya berdiskusi.

Saat kami tanya tentang arti tahun 2020 buatnya, Rama bercerita kalau tahun ini adalah tahun yang penuh tantangan dan ternyata penuh pembelajaran. “Siapa yang nggak tertantang dengan kondisi seperti sekarang, kan? Kita bener-bener dihantam sama pandemi. Dari bulan Maret, semua urusan bisnis tiba-tiba jadi berantakan. Semua rencana indah tahun ini jadi harus ditunda. Bayangin kalau jadi entrepreneur. Kita dihantam bertubi-tubi, nggak kelar-kelar. Gila deh!”, begitu keluhnya.

Ia juga bercerita tentang berbagai cara yang dilakukan supaya bisnis bisa terus berjalan, memutar otak untuk selalu kreatif, supaya tidak sampai harus PHK karyawan. Terutama untuk menjaga kewarasan sebab menurutnya kita pasti bisa lelah mendengar kabar pandemi yang semakin hari semakin membuat ngeri. Tapi Rama merasa beruntung bahwa setiap hari ia seperti menambah pelajaran hidup. Semakin bisa belajar melihat karakter manusia dan karakternya sendiri sebagai seorang pemimpin di kantor. “Aku selalu berpikir ‘Apa yang bisa aku lakukan ya? Apa yang bisa aku kontribusikan di kondisi seperti sekarang? Aku punya 18 karyawan yang harus digaji setiap bulan. Jadi kalau tiba-tiba nggak ada pemasukan deg-degan banget nggak sih? Dan bukan cuma itu tapi aku juga harus belajar untuk sangat berbesar hati agar selalu bisa membesarkan hati  timku juga.” 

Semua ini dilakukan Rama semata-mata agar timnya selalu semangat, tidak putus asa, dan supaya mereka yakin dia tidak cuma memikirkan diri sendiri tapi memikirkan mereka juga. Jadi di tahun ini Rama belajar banyak sekali, tidak hanya tentang bisnis tapi juga belajar untuk bisa berkomunikasi dengan diri sendiri, banyak mendengarkan diri sendiri, dan untuk bisa tahu dia bisa berkontribusi apa sebagai seorang fashion designer. Sampai sekarang pun Rama mengakui masih terus belajar. Rama bilang bahwa diri sendiri itu sangat kompleks karena tiap orang unik dan punya caranya sendiri-sendiri untuk bisa mengatasi situasi seperti sekarang. “Kalau buat aku, daripada pusing mikirin pandemi atau mikirin terlalu jauh, seperti: Gimana kalau ini, kalau itu, lebih baik aku berusaha sebaik mungkin dan bersyukur dengan hal itu. Nggak bisa muluk-muluk mintanya. Masih dikasih sehat, masih bisa makan, dikasih waktu, udah bersyukur banget. Biasanya kan kita suka ngeluh bilang nggak ada waktu buat ini-itu. Menurutku sekarang kita lagi dikasih waktu banyak. Dikasih waktu buat bersyukur sama melihat hal-hal kecil dalam hidup”.

Mendengar semangat juangnya, kami pun sangat kagum dengan apa yang diupayakan olehnya lewat Rama Dauhan Design Studio. Lihat saja, awal-awal pandemi ia bersama timnya sudah berinisiatif untuk membuat masker. Ia mungkin tidak punya platform yang besar untuk berjualan. Tapi ia telah berhasil menjual sekitar 2000 masker dari awal sampai sekarang. Sebisa mungkin ia menggunakan bahan-bahan yang ada. Hasilnya? Sudah pasti jadi berbeda! Seperti salah satu koleksi yang dinamakan Pesona Karantina. Tanpa menjual dengan harga mahal, terbukti cash flow mereka tetap bisa jalan terus dengan ide-ide kreatif dan praktis. Dan ternyata tidak cuma itu, lho. Rama seperti tidak kehabisan ide untuk tetap bertahan. Ia menggagas lounge wear, baju rumah seperti piyama dan dress rumahan yang semuanya dibuat sendiri. Mulai dari pewarnaan sampai pengadaan. Jadi mereka tidak tergantung dengan toko kain atau supplier lainnya. Malahan ia dan timnya jadi bisa lebih kreatif coba-coba teknik pewarnaan. Rama sendiri memang pernah belajar dari Carmanita (salah satu desainer batik ternama di Indonesia) untuk pewarnaan dan pencelupan. Lalu ia share dan menantang timnya untuk terus berkreasi. 

Meskipun timnya tetap masuk kerja, tapi semuanya diatur sedemikian rupa sesuai dengan protokol kesehatan yang ada. Meeting dengan klien memang selalu online, kalau memang harus fitting tatap muka, studio pasti didesinfektan dulu. Jam masuk kerja pun dikurangi, dibagi dua kelompok kerja dengan jadwal masuk lebih pagi, pulang lebih cepat, jeda waktu datang diatur setiap setengah jam agar tidak berkerumun. Lalu Rama mengeluarkan SOP (standard operation procedure) supaya timnya mandi ketika tiba di kantor sebelum mulai bekerja. Dan yang paling penting saat kerja harus pakai masker, sering-sering cuci tangan dan pakai hand sanitizer

Sampai hari ini, dengan segala upaya ia mengakui semuanya masih berproses. Ia dan timnya tidak berhenti mencari cara untuk terus maju. Dulu mereka sempat membuat APD bersama WIF, bersama teman-teman desainer dan local brand lainnya. Hasilnya? Donasi yang dikumpulkan mencapai lebih dari 450 juta rupiah. Sekarang ia suka berpikir: seru juga ya apapun yang bisa dikerjakan, dikerjakan. Bahkan sekarang ia sedang kembali menantang timnya untuk membuat baju upcycle dari koleksinya yang sudah lama dan tidak terpakai.

“Mungkin koleksinya nanti bukan yang mudah dipakai atau yang mudah dijual, tapi aku pengen juga mereka tetap punya pengalaman untuk bikin suatu koleksi yang berbeda. Kalau nanti memungkinkan, kami mau bikin video atau photoshoot yang lebih proper juga. Jadi mereka sekarang bekerja tetap dengan ritme kerja biasa tapi mungkin platform show-nya berbeda. Ini juga bisa jadi gerakan untuk zero waste. Tujuannya juga untuk mengedukasi masyarakat. Puji Tuhan banget baju lounge wear ini juga masih jalan sampai sekarang. Tapi yang lebih penting lagi kami masih terus berusaha untuk tetap sehat. Sehat dan waras. Karena mental juga ternyata penting banget. Mungkin kalau orang lihat di Instagram, mereka bilang, ‘Ini si Rama jalan-jalan mulu nih’. Tapi banyak hal yang mungkin orang juga nggak lihat betapa struggle-nya aku untuk mempertahankan bisnis, untuk menyemangati anak-anak. Itu kan juga nggak gampang. Padahal aku sendiri juga mungkin lagi nggak selalu dalam kondisi yang enak terus. Kondisi aku juga lagi capek, lagi stres. Dan setiap perjalanan yang aku lakukan semuanya bertanggung jawab kok. Semuanya sebelum berangkat pasti melakukan tes swab dulu sesudahnya juga tes swab lagi. Kalau kenal aku dari dulu, aku emang nggak betahan di Jakarta. Tapi aku nggak impulsif. Kalau mau jalan-jalan secara finansial juga yang sesuai budget, sudah siapin mental dan fisik. Kalau nggak ya nggak bakal berani.”

Tahun 2020 tinggal beberapa bulan lagi berakhir. Biasanya Rama selalu punya rencana cadangan untuk dilakukan di tahun berikutnya. Tapi kali ini berbeda. Menurutnya, rencana-rencana tersebut belum bisa diapa-apakan. Ia memilih untuk fokus dengan apa yang dihadapi di depan mata sekarang. Berjaga-jaga, tetap waspada dan menabung. “Aku belum berani untuk terlalu berencana besar untuk tahun depan. Membuat koleksi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kayaknya masih terlalu dini untuk ngomongin itu. Karena aku masih perlu melihat setelah ini nih perekonomiannya gimana. Daya beli orang tuh seperti apa, kuat atau nggak. Atau kalaupun kuat, tipe baju seperti apa yang dibutuhkan atau diinginkan sama customer. Jadi ya, aku masih belum berani buat bikin rencana besar, kita lihat aja bagaimana cakupannya setelah pandemi”, tutupnya mengakhiri diskusi kami.

Rama Dauhan bisa diikuti melalui instagram @ramadauhan dan karya-karya rancangannya dapat dilihat di @ramadauhandesignstudio

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x