Tuntutan Jadi Religius Setelah Main Film Religi

Saya mengetahui sosok seorang Fedi Nuril pertama kali ketika ia bermain dalam film garapan Rudi Soedjarwo, ‘Mengejar Matahari’ (2004). Setahun setelah itu, Fedi kembali bermain dalam film ‘Janji Joni’ (Joko Anwar, 2005). Di tahun yang sama, Fedi juga bermain dalam sebuah film berjudul ‘Garasi’ (Agung Sentausa, 2005) yang menarik perhatian banyak penonton, termasuk saya. Film ini berhasil membuat nama Fedi Nuril semakin dikenal. Pasalnya, Fedi tak hanya beradu akting tapi juga bermain musik sebagai gitaris. Bahkan, judul film ‘Garasi’ kemudian dijadikan nama band yang masih eksis hingga kini. “Bisa dibilang film itu yang ngasih liat passion utama aku, yaitu musik,” ungkap Fedi.

Mengawali karir sebagai model, Fedi mengaku menjadi seorang model, apalagi aktor, bukanlah cita-citanya. Namun, Fedi kini merasa nyaman menjalani pekerjaannya, sebagai aktor dan musisi. Fedi menekuni musik, sejak ia masih sekolah. “Pokoknya dari pertama aku udah bisa main gitar, memang udah kebayang untuk bisa nge-band dan bisa live performance. Makanya, waktu SMA aku bikin banyak band sampai nggak kehhitung jumlahnya dan dengan genre yang berbeda-beda,” cerita Fedi. Setelah lulus SMA, kesibukan kuliah membuatnya berhenti bermain musik. Fedi yang kala itu berniat mencari uang tambahan ditawari menjadi model yang kemudian membawanya ke dunia keaktoran. Kini, pertanyaan tersulit untuk ia jawab adalah ketika ia harus memilih menjadi aktor atau musisi. “Kenikmatan dan kepuasannya tuh beda banget untuk bisa manggung di depan banyak orang sama syuting, terus filmnya ditonton banyak orang. Susah milihnya. Jadi, yang satu tidak bisa menggantikan yang lain,” lanjutnya.

Tahun 2008, Fedi semakin mantap menjejakkan kakinya di industri film. Lewat film ‘Ayat-Ayat Cinta’ (Hanung Bramantyo, 2008), Fedi berhasil menghipnotis lebih dari 3,5 juta penonton lewat perannya sebagai Fahri. Setelah kemunculannya di film tersebut, Fedi kemudian membintangi beberapa film religi lainnya seperti ‘Perempuan Berkalung Sorban’ (Hanung Bramantyo, 2009), ‘Moga Bunda Disayang Allah’ (Jose Purnomo, 2013), dan ‘Surga Yang Tak Dirindukan’ (Kuntz Agus, 2015). Akting Fedi di film ‘Surga Yang Tak Dirindukan’ kembali menarik perhatian lebih dari 1,5 juta penonton. Banyak orang yang kemudian menyebut Fedi sebagai aktor spesialis film religi, meskipun Fedi sendiri kurang setuju. “Sebetulnya film religiku nggak terlalu banyak. Filmku banyak juga kok yang bukan film religi. Ya, alhamdulillah, mungkin karena ‘Ayat-Ayat Cinta’ sebagai film religi pertamaku meledak dan beberapa film religi yang aku bintangi memang box office. Jadi, image itu yang paling nempel ke aku sampai sekarang,” ujar Fedi.

Kesuksesan Fedi berperan di film religi tentunya dibarengi dengan tuntutan dirinya untuk menjadi religius di luar film. “Ya, betul. Aku merasa ada tuntutan harus lebih religius setelah bermain di film religi. Mereka berharap kalau ketemu aku tuh bener-bener seperti ketemu Fahri,” tutur Fedi. Fahri dalam film ‘Ayat-Ayat Cinta’ digambarkan sebagai sosok pemuda Islam asal Indonesia yang sedang menimba ilmu di Mesir. Fahri tidak mengenal pacaran, canggung saat harus berhadapan dengan perempuan, menerjemahkan buku-buku agama, menghafal Al-Quran, dan mampu membaca Al-Quran dengan gaya dari tujuh imam. “Ya, memang diminta untuk seperti itu, seperti apa yang mereka lihat di film. Padahal, kan, definisi religius setiap orang saja beda-beda. Ini kalau dituntut untuk religiusnya se-Fahri, ya, berat banget,” tambah Fedi sambil sedikit tertawa.

Bagi Fedi, tantangan terbesar bermain film religi justru menghadapi penonton setelah filmnya tayang. Sebetulnya aman jika filmnya tidak terlalu laku di pasaran. Namun, ia pastinya akan selalu berharap filmnya ditonton banyak orang dan menyentuh hati yang menonton. “Populer dan kesuksesan nggak selamanya enak. Ada tanggung jawab di situ dan nggak semua efeknya nyaman di kita. Nggak usah terkenal karena peran religi, peran yang biasa saja kalau memang filmnya sukses, pasti privasi akan mulai terganggu, penonton atau fans mulai banyak permintaan, mulai banyak harapan. Tantangannya dimulai di situ. Tarafnya mungkin lebih besar ketika itu film religi, karena menyangkut keyakinan,” ungkap Fedi.

Bermain di film religi, Fedi banyak mendapat pandangan dan pelajaran baru mengenai ilmu agama Islam. Fedi ingat sebelum syuting ia ke Mesir menapaktilasi apa yang ada dalam novel ‘Ayat-Ayat Cinta’ ditemani oleh seorang mahasiswa asal Indonesia. Selama di sana, Fedi merasa mendapat pencerahan yang tidak ia dapatkan saat belajar Islam di Indonesia. “Aku merasa dapat ilmu agama yang mencerahkan. Sebelumnya, aku merasa ngajarin agama di Indonesia itu ditakut-takutin. Dibakar di neraka lah, dilaknat, diazab. Pas aku ke Mesir, lebih sering dengar yang indah-indah tentang Islam. Malah soal azab, soal dosa, itu sedikit banget. Seperti, kalau kita melakukan ini akan dapat pahala segini, atau saat kita melakukan ini, malaikat turun dari langit dan mendoakan kita. Ini indah banget. Aku nggak pernah dengar yang seperti ini sebelumnya,” tutur Fedi. Fedi sadar, ada manusia yang termotivasi melakukan kebaikan karena reward, ada juga karena rasa takut. Menurut Fedi, ia bukan orang yang bisa dimotivasi lewat rasa takut. “Waktu di Mesir itulah aku merasa untuk bisa mendalami ilmu agama, aku harus pakai yang indah-indah dan mengangkat hal-hal yang positif,” terang Fedi. 

Jika ditanya, apakah kini seorang Fedi Nuril semakin religius? Menurut Fedi, “Itu kan kata orang-orang. Mereka melihat aku religius karena masih kebawa film. Mereka nggak ketemu aku, duduk bareng, ngobrol. Dan, kembali ke definisi religius tadi, kalau kita mau ngomongin religius itu kayaknya bisa diperdebatkan dan juga susah dinilai karena beda-beda setiap orang. Secara pribadi, aku masih terus belajar dan dengan umur yang bertambah aku juga semakin mendalami Islam,” jelas Fedi. Proses belajar ini memberi pengaruh pada Fedi ketika memutuskan menerima tawaran sebuah film. Seperti saat memutuskan mundur dari sebuah film yang mengharuskan ia merapal mantra yang diambil dari surat Al-Quran. Sesuatu yang bertentangan dengan apa yang Fedi yakini.

“Mereka meyakini mengusir jin pakai ayat Al-Quran yang bertentangan dengan keyakinan aku, karena aku meyakini bahwa ayat ini tuh justru untuk menguak rahasia alam semesta. Mungkin nggak ada yang salah atau benar, hanya saja bertentangan dengan keyakinan aku. Jadi, akhirnya aku mundur dari proyek tersebut,” ungkap Fedi. Padahal, Fedi mengakui kalau ia sangat menyukai konsep cerita film tersebut. “Konsepnya sebenarnya keren. Kalau saja mantranya dikarang, aku ambil deh. Tapi, memang semakin aku mendalami apa yang aku yakini, ada beberapa hal yang jadi pertimbangan untuk menerima tawaran sebuah film atau tidak,” tambah Fedi. Fedi merasa bersyukur memiliki pilihan dalam mengambil sebuah tawaran pekerjaan, meskipun terkadang tidak semua harus sesuai dengan apa yang diyakininya. “Alhamdulillah, aku memang punya pilihan, tapi faktanya ada hal-hal yang misal di agama disarankan untuk dihindari masih aku lakukan juga. Imanku memang kadang belum sekuat itu, masih naik turun. Jadi ada yang hard no atau mutlak tidak akan aku jalani dan ada yang, ya.. masih oke-lah untuk dijalani,” tutur Fedi.

Sebelum percakapan kami berakhir, Fedi mengungkapkan harapan untuk karirnya ke depan. “Aku sudah sangat sreg dengan akting. Ini sepertinya akan aku jalani untuk waktu yang masih lama. Kalau ditanya kapan pensiun, ya, aku nggak tahu, dan kayaknya nggak ada aktor yang pensiun. Aku juga akan terus berkarya di musik meskipun belum tahu karyanya nanti dijadiin album atau akan tour. Musik akan tetap jadi bagian penting dari hidupku. Aku mungkin akan mulai melebarkan diri, bukan hanya menjadi aktor, tapi juga mulai nge-produce sendiri. Jadi, bukan cuma menunggu bola tapi mencoba berinisiatif untuk menjemput bola. Karena, ya, dengan bertambahnya umur pastinya akan ada regenerasi, kan,” tutup Fedi. Kita sama-sama doakan semua rencana Fedi Nuril ke depannya bisa terealisasi.

Cari tahu lebih banyak tentang Fedi Nuril melalui @fedinuril

Penulis: Emira P. Pattiradjawane

Editor: Andi F. Yahya

Fotografer: Thomas Sito

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x